News

Bianca dan Tingkat Literasinya

“Saatnya kegiatan literasi dimulai.” Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, tepat pukul 7.20 suara nyaring kembali terdengar dari speaker utama SMP Puspa Bangsa. Menandakan seluruh murid SMP Puspa Bangsa berkewajiban mengikuti kegiatan literasi. Mereka diharuskan membaca, menyimpulkan, serta meresapi karya tulis yang dibaca pagi itu, tak lupa pula mencatatnya pada buku jurnal khusus literasi yang telah disediakan sekolah.

“Ikuti kegiatan literasi dengan serius, Bianca,” ucap Bu Maya yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sedari tadi Bianca hanya bermain-main dengan buku bacaannya.

“Baik, bu,” sahut Bianca menanggapi. Namun, ia tetap tidak serius dalam literasinya.

     Sekian kalinya Bianca ditegur saat kegiatan literasi, Bianca tetap acuh. Selama ini Bianca menganggap remeh dan tidak serius saat mengikuti kegiatan literasi.

Bu Maya menghela napas melihat tingkah Bianca. Setelah kegiatan literasi selesai, beliau memberi sedikit wajenang kepada siswa-siswinya. “Anak-anak, kemampuan literasi sangat penting dimiliki oleh setiap individu. Literasi dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, membuat kerja otak lebih optimal, dan mengasah kemampuan dalam menangkap serta memahami informasi dari bacaan. Kegiatan literasi yang kalian ikuti di pagi hari merupakan salah satu upaya SMP Puspa Bangsa untuk meningkatkan tingkat literasi siswa-siswinya. Buku bacaan tentang sejarah para pahlawan dalam meraih kemerdekaan yang sudah disediakan, juga merupakan upaya sekolah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri kalian. Dengan begitu, ibu harap kalian dapat merayakan kemerdekaan, menumbuhkan rasa nasionalisme, mengikuti perjuangan para pahlawan, dan memaknai kemerdekaan dengan melakukan kegiatan yang bersifat positif,“ jeda Bu Maya sejenak.

Bu Maya kembali melanjutkan ucapannya, “Contoh memaknai kemerdekaan yaitu lewat literasi membaca. Selain kemerdekaan Indonesia yang membuat kita bangga, kita juga harus memberi kemerdekaan pada hal literasi di Indonesia. ‘Merdeka dalam literasi’ berarti memiliki kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan kritis serta bertanggung jawab. Bisa dipahami apa yang ibu sampaikan?”

“Bisa, Bu Maya!” Seluruh siswa kelas VII-B menjawab dengan kompak, mereka memahami apa yang disampaikan Bu Maya. Terkecuali dengan Bianca, ia justru asyik melamun dan mengacuhkan nasihat dari Bu Maya.

Memasuki jam pelajaran ketiga murid kelas VII-B tampak lebih bersemangat. Karena Bu Maya selaku wali kelas mereka akan memberi koordinasi terkait lomba 17-an yang diadakan SMP Puspa bangsa.

“Anak-anak, seperti yang kalian ketahui, sekolah kita secara rutin mengadakan lomba HUT Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 16 Agustus. Tahun ini, untuk memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia,  sekolah kita mengadakan lomba yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekolah mengadakan lomba cerdas cermat sejarah, cipta puisi, dan pecah air, ” jelas Bu Maya. “Menurut kalian apa yang berbeda dari lomba pada tahun sebelumnya?” tanya Bu Maya meminta jawaban siswa-siswinya.

Gerakan tangan Isyana terhenti di udara, Isyana telah didahului Clarie yang sudah menjawab pertanyaan Bu Maya terlebih dahulu. “Ada lomba cerdas cermat sejarah, lomba yang belum pernah diadakan oleh sekolah, ” ucap Clarie.

“Tepat sekali, Clarie. Petunjuk dan teknis lomba akan menyusul. Tolong sekretaris untuk mendata nama-nama yang akan berpartisipasi mengikuti lomba,ya, ” pinta Bu Maya.

Humaira selaku sekretaris langsung merobek selembar kertas dan menulis nama teman sekelasnya yang ingin berpartisipasi dalam lomba 17-an mewakili kelas VII-B. Humaira menulis nama Clarie, Abel, Naufal, dan Juno yang tergabung dalam lomba cerdas cermat sejarah tim 1 (bernama tim pena). Laura, Kinan, Ihsan, dan Arkan tergabung dalam lomba cerdas cermat sejarah tim 2 (bernama tim pensil). Grace, Alifia, dan Olive mengikuti lomba cipta puisi. Aksa, Evan, Zikri, Lia serta Reyna mengikuti lomba pecah air.

Hari perlombaan pun tiba, semua peserta  berjuang keras demi memenangkan pertandingan di cabang lomba masing-masing. Murid SMP Puspa Bangsa yang tidak mengikuti lomba akan menyemangati temannya dengan bersorak dari pinggir lokasi perlombaan.

Babak final cerdas cermat sejarah berlangsung sengit. Mempertemukan tim pena (VII-B), tim pensil (VII-B), dan tim penghapus (VII-C). Babak final dilaksanakan dengan sistem tanya jawab yang terdiri dari soal wajib dan rebutan. Apabila ada tim yang tidak dapat menjawab soal wajib, kesempatan menjawab bisa direbut oleh tim lain dengan penekan tombol bel tercepat. Menjawab soal wajib dengan benar bernilai +50 poin, jika salah 0 poin. Menjawab soal rebutan dengan benar bernilai +50 poin, dan jika salah -25 poin.

Pemandu acara membacakan 2 pertanyaan terakhir, “Siapa tokoh yang dikenal sebagai ‘Bapak Pendidikan Nasional’ di Indonesia?” Tim pensil akan diberi waktu 30 detik untuk menjawab. Jika tim pensil tidak bisa menjawab pertanyaan setelah 30 detik, kesempatan menjawab bisa direbut oleh tim lain.

30 detik berlalu. Tim penghapus menekan bel tanda ingin merebut pertanyaan milik tim pensil. Juru bicara tim penghapus menjawab, “Budi Utomo.”

“Salah. Tokoh yang dikenal sebagai ‘Bapak Pendidikan Nasional’ di Indonesia adalah Ki Hajar Dewantara,” ucap salah satu juri. Skor sementara tim penghapus berkurang 25, menjadi 175 poin.

“Pertanyaan terakhir untuk tim pena. Apa arti dari istilah ‘Jas Merah’ yang sering disampaikan oleh Bung Karno?”

Waktu nyaris menyentuh angka 30 detik, Clarie sebagai juru bicara dari tim pena segera menjawab, “Istilah ‘Jas Merah’ adalah singkatan dari ‘jangan sekali-kali meninggalkan sejarah’.”

“Jawaban benar!” babak final telah berakhir. Tim pena menjadi juara pertama dengan total perolehan sebanyak 250 poin, tim pensil menjadi juara kedua dengan 200 poin, dan tim penghapus menjadi juara ketiga dengan 175 poin.

Lomba 17-an yang digelar SMP Puspa Bangsa telah sukses dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Clarie, Abel, Naufal, dan Juno meraih juara 1 lomba cerdas cermat sejarah. Laura, Kinan, Ihsan, dan Arkan meraih juara 2 lomba cerdas cermat sejarah. Lia meraih juara 3 pecah air kategori putri. Ditambah Evan yang meraih juara 2 cipta puisi.

Di saat teman-temannya yang lain sedang menikmati jam istirahat, secara tiba-tiba Bianca mendatangi meja Clarie, “Hei Clarie! Kamu dan rekan satu timmu melakukan kecurangan saat lomba cerdas cermat sejarah beberapa hari kemarin, kan?!” Bianca menuduh Clarie dan rekan satu timnya telah melakukan kecurangan saat mengikuti lomba cerdas cermat sejarah.

“Kemarin kamu tidak berangkat sekolah karena takut ketahuan sudah berbuat curang, ya?! Jangan mengelak, bukti foto kecuranganmu sudah tersebar di internet!” Bianca bersedekap dada melanjutkan tuduhannya. Sedangkan ekspresi Clarie terlihat bingung.

“Tidak boleh menuduh orang sembarangan seperti itu, Bianca,” tegur Salsa. Salsa tak dapat berdiam diri saat melihat sahabatnya dituduh dengan alasan yang tak jelas.

“Sembarangan apa nya? Aku saja sudah melihat bukti foto Clarie yang menyembunyikan kertas contekannya di laci meja,” sanggah Bianca.

“Jangan mengada-ada, ya, Bianca!” Clarie mulai geram karena tuduhan yang Bianca layangkan kepada timnya.

“Kamu pasti salah paham, mereka tidak mungkin melakukan tindak kecurangan, ” tegas Salsa membela Clarie. Abel pun mengangguk menyetujui ucapan Salsa.

Di tengah sengitnya keributan, Pak Zahid datang. Beliau datang atas laporan Humaira yang mengatakan bahwa terjadi keributan dalam kelas. “Kenapa kalian ribut-ribut seperti ini? Coba jelaskan kepada saya akar masalahnya,” pinta Pak Zahid mencoba menengahi keributan.

“Bianca menuduh Clarie dan rekan satu timnya melakukan kecurangan saat lomba 17-an kemarin, pak,” jelas Salsa.

“Saya tidak menuduh mereka, Pak! Saya sudah melihat bukti fotonya di internet. Coba bapak buka laman akun @aktivitassmppuspabangsa, jelas terdapat postingan foto Clarie yang menyembunyikan kertas contekannya,” sergah Bianca tak terima.

Pak Zahid mengambil ponsel genggamnya dari saku celana, beliau segera membuka laman yang dimaksud oleh Bianca. Memang benar terdapat postingan foto Clarie sedang menyembunyikan contekan di balik laci meja. Netra Pak Zahid menajam kala melihat caption dari postingan tersebut.

“Yogyakarta, 19 Agustus 2024 – Tim cerdas cermat dari kelas VII-B SMP Puspa Bangsa dicurigai melakukan tindak kecurangan saat mengikuti lomba 17-an yang digelar SMP Puspa Bangsa. Seorang siswi berinisial C yang merupakan anggota tim diduga menjadi pencetus ide…baca selengkapnya.” Murid yang berada di kelas cukup terkejut melihat foto dan caption postingan @aktivitassmppuspabangsa sebagai akun pengunggah. Terjadi bisik-bisik di antara murid kelas VII-B.

“Tenang anak-anak, kita baca caption nya hingga selesai terlebih dahulu,” imbuh Pak Zahid menenangkan. Beliau lanjut membacakan caption dengan lantang agar semua murid kelas VII-B dapat mendengar dengan jelas.

“Yogyakarta, 19 Agustus 2024 – Tim cerdas cermat dari kelas VII-B SMP Puspa Bangsa dicurigai melakukan tindak kecurangan saat mengikuti lomba 17-an yang digelar sekolahnya. Seorang siswi berinisial C yang merupakan anggota tim diduga menjadi pencetus ide dari kasus ini. Kenyataannya kabar burung yang telah tersebar di internet mengenai kasus tersebut merupakan kabar bohong atau tidak benar, sebab foto yang pertama kali diunggah oleh akun @breakingnews01 merupakan foto hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence). Foto tersebut sudah direkayasa dari foto aslinya dengan menambahkan kertas contekan sebagai perintah pada sistem AI. Kepala sekolah SMP Puspa Bangsa melakukan penyelidikan lebih lanjut, bertujuan menemukan dalang dibalik akun yang pertama kali mengunggah foto hasil rekayasa AI. Setelah penyelidikan dilakukan, kepala sekolah SMP Puspa Bangsa menduga dalang dibalik kasus berita bohong ini adalah siswi SMP Puspa Bangsa sendiri yang berinisial I. “Saat ini siswi tersebut masih menjalani pembinaan,” ucap kepala sekolah SMP Puspa Bangsa. Kepala sekolah SMP Puspa Bangsa akan mengedukasi siswa-siswinya dan berharap tidak ada lagi kasus serupa yang terjadi di SMP Puspa Bangsa.”

Murid kelas VII-B cukup terkejut setelah mengetahui kebenaran dari kegaduhan yang terjadi. Mereka mulai menerka-nerka pelaku berinisial I yang menjadi dalang dibalik kasus berita bohong yang menimpa Clarie dan rekan satu timnya.

Pak Zahid tersenyun lega, “Nah, ternyata ada kesalahpahaman informasi di sini. Kecerdasan AI bisa menjadi boomerang untuk kehidupan manusia jika tidak digunakan dengan bijak. Kita harus berhati-hati ketika menggunakan internet, berliterasi secara kritis, dan mau mencari kebenaran dari suatu kejadian. Jangan cepat menyimpulkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Tingkatkan terus kemampuan literasi kalian, terutama untuk Bianca. Literasi itu penting. Semangat kita untuk meningkatkan mutu literasi harus sama seperti semangat para pahlawan dalam meraih kemerdekaan Indonesia.”

Bianca menunduk dalam, merasa malu akan tingkahnya yang kurang berhati-hati. Bianca segera meminta maaf serta mengakui kesalahan akibat dirinya yang kurang literasi, “Saya meminta maaf, saya mengakui kesalahan saya yang sudah menuduh dan menghakimi Clarie beserta rekan timnya tanpa mencari kebenaran informasi terlebih dahulu. Saya akan berusaha meningkatkan literasi saya sebagai bentuk tanggung jawab.”

Clarie dengan senyum tulusnya membalas, “Aku sudah memaafkan. Jangan ulangi kesalahanmu, ya, Bianca. Aku mendukungmu untuk menjadi lebih baik lagi.” Clarie membawa Bianca dalam pelukannya, mencoba menenangkan rasa bersalah Bianca.

Bianca membalas pelukan Clarie, ia berjanji pada dirinya, ia akan menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Setelah lama berpelukan, Bianca menyadari sesuatu. Ia menatap teman sekelasnya satu persatu kemudian bertanya pada Laura, “Aku tidak melihat Isyana hari ini. Apa dia sedang sakit?”

Laura hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: